Majelis Ayah: Menepi sejenak dari tugas utama (2) - Pengetahuan, Kisah, dan Estetika

Majelis Ayah: Menepi sejenak dari tugas utama (2)

Share:

Tentang Keutamaan yang Diamanahkan kepada Laki-laki

Dalam pembahasan tentang hubungan suami-istri, ditegaskan bahwa rumah tangga tidak akan pernah stabil bila hubungan inti antara suami dan istri sendiri belum beres. Karena itu, proses memperbaiki keluarga selalu dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Di bagian ini disinggung firman Allah tentang al-fadl—keutamaan yang diberikan kepada laki-laki. Bukan untuk menindas atau merasa lebih tinggi, tetapi sebagai amanah yang membuat laki-laki memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam memimpin dan menenangkan keluarga.

Disebutkan pula dua kelemahan yang secara syariat disematkan pada perempuan: akal dan agama. Bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menjelaskan perbedaan peran. Dalam konteks persaksian, misalnya, syariat memberikan dua suara perempuan untuk menyamai satu suara laki-laki. Dalam hal agama, perempuan memiliki kondisi biologis tertentu seperti haid yang membuat ibadahnya tidak selalu kontinu. Penjelasan ini bukanlah bentuk pelecehan, tetapi pengingat bahwa setiap jenis kelamin memiliki kekhasan dan tanggung jawabnya masing-masing.


Puncak Keutamaan: Akhlak Mulia

Keutamaan laki-laki tidak berhenti pada kekuatan fisik, ketajaman akal, atau kestabilan emosi. Semua itu hanya bagian permukaan. Puncaknya justru terletak pada akhlak yang mulia—akhlaqul karimah.

Inilah yang menjadi teladan terbesar dari Rasulullah. Akhlaknya membuat siapa pun merasa aman di dekatnya. Bila seorang laki-laki mampu menumbuhkan akhlak semacam itu, maka kehadirannya akan menjadi rahmat bagi keluarganya. Sampai-sampai dikatakan: bila akhlaknya mencapai puncak itu, maka menikah lagi pun bukan sesuatu yang dipersoalkan, sebab keberadaannya justru menjadi sumber kebaikan yang meluas.

Namun mencapai akhlak seperti itu bukanlah hadiah—melainkan proses belajar. Ada ajakan untuk menuntut ilmu secara serius, berguru dengan sungguh-sungguh, bukan hanya berbicara tanpa usaha.


Dua Pilar: Akhlak dan Nafkah

Keutamaan laki-laki terutama terletak pada dua hal yaitu akhlak dan nafkah.

Bila dua hal ini ada dalam diri suami, maka hati seorang istri akan mudah menjadi tenang seperti malam yang menentramkan. Kehadiran istri seharusnya menjadi tempat pulang, tempat istirahat, bukan sumber tambahan masalah ketika suami baru saja menghadapi persoalan di luar rumah.

Tetapi jika justru sebaliknya, istri tidak memberi ketenangan, maka pertanyaan besarnya adalah: salahnya di mana? Jawabannya bukan pada siapa pun kecuali diri sendiri. Karena setiap laki-laki memilih istrinya sendiri, dan memilih berarti menerima. Mengeluh justru menghapus keberkahan.


Rumah Tangga dan Sumber Masalahnya

Banyak orang mengeluh tentang kekurangan pasangannya. Padahal sebelum menikah, keputusan itu diambil atas kehendak sendiri. Mengeluh tidak memperbaiki apa pun, malah memperburuk keadaan. Bila kekurangan pasangan tampak jelas, perbaikan dimulai dari memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Ketika suami memperbaiki dirinya dan menaikkan kualitas akhlaknya, barulah ayat-ayat tentang ketenangan rumah tangga bekerja sebagaimana mestinya. Bahwa rumah adalah tempat lahirnya sakinah, mawadah, wa rahmah. Dan urutannya jelas: ketenangan dulu, baru cinta yang memberi lebih dari yang diminta, lalu kasih sayang.

Seluruhnya bermula dari diri yang bersih dan akhlak yang benar.


Akhlak sebagai Buah dari Akidah dan Ibadah

Akhlak yang baik bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah buah langsung dari akidah yang lurus dan ibadah yang teratur. Bila seseorang bermasalah dalam akhlak—baik kepada Allah, Rasul, orang tua, tetangga, atau anak—maka akar masalahnya hampir selalu berada pada akidah dan ibadah yang belum benar.

Anak-anak pun dibentuk dengan cara yang sama. Ketika sejak kecil dibiasakan mencintai Allah dan Rasul, diajak masuk masjid dengan adab, mengikuti doa-doa sederhana, semua itu perlahan menanam rasa cinta yang mendalam. Anak tidak perlu dipaksa menghafal; yang penting adalah rutinitas yang menumbuhkan refleks.

Akhlak adalah refleks. Seperti orang yang belajar bela diri: ketika terlatih, tubuh bergerak tanpa berpikir panjang. Begitu pula anak-anak yang tumbuh dalam suasana ibadah, kasih sayang, dan keteladanan.


Keteladanan Ayah sebagai Cermin Rasul

Ayah yang berada pada puncak akhlak akan menjadi cermin pertama bagi anak-anaknya dalam mengenali Rasulullah. Mereka melihat Rasul—sejak kecil—dalam perilaku ayahnya. Mungkin terasa berat, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Yang dibutuhkan hanyalah kesediaan untuk memulai, sedikit demi sedikit.

Rutinitas Rasulullah sehari-hari—dari bangun tidur sampai tidur kembali—dapat dijadikan blueprint perilaku di rumah. Bila itu dihidupkan, akhlak akan tumbuh dengan sendirinya.


Ilmu Sebagai Pondasi Keutamaan

Keutamaan tidak mungkin tumbuh tanpa ilmu. Akidah harus dipelajari dengan benar, ibadah harus dilakukan dengan ilmu, sebagaimana Allah sendiri menjadi pendidik pertama bagi Nabi Adam. Ilmu itulah yang meninggikan derajat manusia.

Begitu pula hari ini, ilmu adalah pondasi pembentukan akhlak, karakter, dan keluarga yang kuat. Tanpa ilmu, tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga hanya menjadi slogan yang hampa.

Gambar diambil dari Muslimskeptic


Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung, terus dukung kami, jangan lupa klik iklan sebagai tanda kunjungan. Mari saling menghargai.